SLOWLY, FALL IN LOVE… BUT, IT’S CAME TOO LATE…
Cerita
dirangkai, tentang si “anak manusia” yg tak lelah mencari … story, yang lama dia
renungkan, apakah harus dicatat… dituangkan.. diungkapkan… bukan maksud untuk
ungkapkan kesedihan akhir tahun yg mestinya dilewatkan dengan sebuah celebration atas pencapaian dari sebuah
perjalanan sang “anak manusia” yang “nggak seberapa” ini… Ya, tapi cerita ini memang
harus dituliskan, karena itulah yang diinginkannya, sama seperti
sebelum-sebelumnya.
Tercenung
sejenak dia-nya, sedih jg memang… tapi masih sempat-sempatnya sang “anak
manusia” ini berbisik kepadaku; “hei man… tulislah kisah ku ini kalau memang
mau ditulis, tetapi jangan dengan bahasa yang melankolis, cengeng yg
mengharu-biru. Tulislah dengan sesuatu yg bisa menumbuhkan semangatku… rasa
optimisku… taon baruuu niy brooo….” Oke lah fren, jawabku singkat.
Cerita
bermula dari sentuhan sinyal-sinyal IT yang saat ini memang lagi mewabah bagai
penyakit kolera dengan berbagai dampaknya, dan diberi tema sekenanya; tentang
sebuah pengambilan keputusan “hati” dan segala resikonya, haha. Memang
keputusan ini juga diambil atas pengalaman yang juga “belum seberapa”. Entah
kesalahan pengambilan kesimpulan atas kejadian, kenangan, dan pengalaman,
entahlah.
Tetapi
sang “anak manusia” tau pasti ini karena niat, keinginan untuk sebuah “hubungan
khusus” yang terakhir kalinya… untuk selamanya, juga barangkali karena terlampau
berhati-hati… agar tidak ada hati yang terluka, hati siapa saja (lah tapi, koq
malah hati sendiri yg terluka, piyee tha) Berharap tahu dulu “dengan pasti
& yakin” bahwa cinta itu benar-benar ada, nyata.
Begitulah,
dengan treatment tertentu, beberapa
hari yg lalu (3 hari yg lalu mngkin) hati sang “anak manusia” ini telah
teryakinkan seyakin2nya… bahwa ia; cinta itu bener2 ada.. ah setelah sekian
lama, gumamnya…. dengan tatapan sesaat tepat ke bola mata-nya (walau sedikit
sembunyi2, haa..).. aq percaya itu adanya, aq gak salah… bgetho katanya.
Yahh
begitulah (lagi2 begitulah, hmmm…), itu hanya (masih) sebuah pernyataan satu
sisi dari dua keping hati yang berbeda, baru satu perspektif ungkapan rasa,
dari dua zat yang paling dibutuhkan dalam proses kimiawi dua insan.
Barangkali ada yang sedikit terlupakan oleh sang “anak manusia” ini; bahwa di ujung sana
keping hati dambaannya juga sedang bergelut dengan segala permasalahannya,
harapan, dan angan-angannnya.
Yah
mau gimana lagi, tentunya akan menjadi terkesan absurd di mata sang dambaan hati bila sang “anak manusia” mengatakan;
seandainya masih ada kesempatan, seandainya masih bisa, dan andai-andai yang
lain… aq akan buktikan bisa menjadi yang terbaik untuknya, gumamnya. Gimana bro..
haruskah ku katakan itu.. masih bisa kah ku raih asa ku padanya? Begitu tanya
nya padaku dengan cepat, walau dengan sedikit terbata. Ku terdiam, gak mampu
memberikan jawaban, gak berani… takut salah. Dan pada akhirnya semua belum bisa
diputuskan, sang “anak manusia” tercenung… termangu. Ahhh… aku jadi iba, tapi
apa daya?
Tapi
tentu saja, “atas nama prinsip” tidak ada istilah benar atau salah secara
absolut, apabila rule-nya gak jelas. Memang, dalam hati sang “anak manusia” ini
sudah sejak lama selalu berkecamuk.. bergelut dengan dua prinsip yg saling
bertentangan; apakah memilih prinsip “berhati-hati” dalam sebuah relationship yang sarat dengan permainan
rasa… atau memilih prinsip yang satunya lagi; segera tangkap saja selagi bisa,
slagi ada kesempatan, masalah kedalaman rasa? Ahh itu nanti saja… lepaskan saja
kalau memang ia tiada… selesai.
Prinsip
yg kedua ini bukannya nggak pernah dilakukan sang “anak manusia”… tetapi
hasilnya… efeknya sama terhadap “kesehatan” hati, jiwa. Rasa bersalah, berdosa, rasa
nano2 lah. Yah mau gimana lagi kalau kalau rasa itu nggak tumbuh2 juga, begitu argument-nya kala itu.
Kembali
ke prinsip yang pertama, yang baru saja terbukti dengan “luka hati” sang “anak
manusia”, hanya beberapa detik saja sebelum tulisan ini dibuat, baru saja tau
tepat di tegukan yg pertama dari secangkir kopi “gayo” yang ke-3 untuk hari ini,
yg baru saja di suguhkan ke hadapan ku. Baru saja tahu bahwa cintanya “tlah
berlalu”… seperti berlalunya “tahun 2007”.
Dan begitulah
tulisah ini selesai dirangkai, dengan satu bisikan halus dari sang “anak
manusia”…. Syukur yah bro, ternyata aq masih bisa juga bener2 fall in love setelah sekian lama, setelah
peristiwa-peristiwa yang sungguh “celaka” itu… fall in walau endingnya gak enak…
Hmmm…
gumamku, aq sempatkan juga sedikit berpesan (gak enak jg dari tadi cuma diem),
singkat saja… “fren, jangan takut menjalankan sebuah prinsip selagi tidak
bertentangan dengan rule yg di “atas”.
Resiko pasti selalu ada… Jatuh bangun itu mah biasa, kesalahan kecil itu
manusiawi. Terbukti khan… sekarang kamu jauuuuh lebih matang, wake up fren… 2008 didepan mata.. saatnya
giliran mu.
Pasar
Merah, December 31, 2007 ; 08.15 AM