Pagi… subuh… detik-detik yg damai, waktu "emas" ku untuk berfikir.. merenung…
menikmati tanda-tanda kebesaran-Mu, dalam sujud..
Acceptance Withaut Judgment
Kunci
kebahagiaan sejatinya adalah ketika kita ridha atau bisa menerima segala macam
kondisi dalam hidup.
Tuhan
telah menciptakan dua kondisi yang berbeda dalam kehidupan; baik – buruk… manis
– pahit… senang – susah… Kadang kita dihadapkan pada kondisi yang sesuai dengan
harapan, tapi kerap kali juga dihadapkan pada kenyataan yang tidak sesuai
dengan keinginan.
Agar
tetep enjoy, bahagia dalam hidup, kita perlu “balajar” ridha untuk
keduanya dengan tingkat kualitas yang sama.
Ya
– ridha…. “accaptance withaut judgment”, menerima apa adanya.. setelah berusaha
& doa.. pasti-nya.
Ridha
– tanpa stempel.. tanpa embel-embel.. tanpa titik.. juga tanpa koma.
Mati itu Pasti
Jalan hidup bagai sebuah garis lurus. dia nggak pernah kembali ke masa lalu, tak ada yang bisa di ulang, karena dia bukan lah bulatan, bukan lingkaran.
Seluruh kehidupan, merangkak dan semakin mendekat ke titik akhir; kematian. Karena itu, kenapakah kita takut akan sesuatu yang pasti akan terjadi? bukankah setiap kita pasti akan mati, dan itu hanya soal waktu. Walau demikian, janganlah engkau minta mati datang padamu dan jangan pula berbuat yang menyebabkan kesakitan dan kematian.
Jangan menyerah, jangan lengah, jangan gundah, "jangan matikan jiwamu"
Nasib..??
Tidak ada sesuatu pun yang akan tetap sama jika kita tidak
menghendakinya begitu. Bukan nasib, bukan keadaan, dan juga bukan karena kita
dilahirkan demikian yang menyebabkan masa depan kita menjadi demikian.
Tidak ada sesuatu pun yang akan tetap sama jika kita tidak
menghendakinya begitu.
Bertanyalah… “Saya ingin keadaan ini menjadi seperti apa?”.
Lalu kita harus bekerja dengan tekad baja untuk mewujudkannya.
AKHIR MATAHARI 2007
Penghujung tahun 2007 ini, dari timur matahari terbit sama seperti tahun-tahun
sebelumnya. Tapi peristiwa, sejarah -
siapa bilang ia bisa berulang? Setahun, dua tahun, lima tahun, merubah banyak
hal.
Di setiap
tahun perjalanan bangsa ini, selalu disirami dengan cahaya matahari yang sama,
setiap pagi selalu di sapa dengan matahari yang sama dari ufuk timur… Akan tetapi
mengapa hijau daun di kebun-kebun kita tak seperti sehijau dulu kala, mengapa
panen bulir padi kita nggak sebaik panen pada masa kecil kita? Entah karena
itu, atau karena sesuatu yang lain, terbesit sebuah pertanyaan untuk tahun
2008, benarkah optimisme merupakan sesuatu yang wajar?
Matahari
itu, matahari yang sama – kini seakan bersinar diatas lautan sampah plastik, kaleng
berkarat. Jutaan langkah manusia memanjang bergerak di jalanan yang kian
sumpek, debu jalan itu bercampur racun knalpot. Anti-utopia? Nggak tau. Tapi
itu lah ciri pemikiran yang paling banyak disambut belakangan ini. Bersikap
pesimistis seolah sudah menjadi mode. Tentu saja kita tahu betapa pentingnya
harapan. Namun agaknya tak dapat diingkari “masa depan” bagi tahun 2000, 2004,
2007, berbeda cara melihatnya dengan “masa depan” bagi tahun 2008.
Mungkin
karena kini kita tahu lebih banyak, dan juga kecewa lebih banyak… sementara
perubahan, kemakmuran belum juga menjelang… masih dalam angan.
Pasar
Merah, December 31, 2007 ; 09.00 AM
SLOWLY, FALL IN LOVE… BUT, IT’S CAME TOO LATE…
Cerita
dirangkai, tentang si “anak manusia” yg tak lelah mencari … story, yang lama dia
renungkan, apakah harus dicatat… dituangkan.. diungkapkan… bukan maksud untuk
ungkapkan kesedihan akhir tahun yg mestinya dilewatkan dengan sebuah celebration atas pencapaian dari sebuah
perjalanan sang “anak manusia” yang “nggak seberapa” ini… Ya, tapi cerita ini memang
harus dituliskan, karena itulah yang diinginkannya, sama seperti
sebelum-sebelumnya.
Tercenung
sejenak dia-nya, sedih jg memang… tapi masih sempat-sempatnya sang “anak
manusia” ini berbisik kepadaku; “hei man… tulislah kisah ku ini kalau memang
mau ditulis, tetapi jangan dengan bahasa yang melankolis, cengeng yg
mengharu-biru. Tulislah dengan sesuatu yg bisa menumbuhkan semangatku… rasa
optimisku… taon baruuu niy brooo….” Oke lah fren, jawabku singkat.
Cerita
bermula dari sentuhan sinyal-sinyal IT yang saat ini memang lagi mewabah bagai
penyakit kolera dengan berbagai dampaknya, dan diberi tema sekenanya; tentang
sebuah pengambilan keputusan “hati” dan segala resikonya, haha. Memang
keputusan ini juga diambil atas pengalaman yang juga “belum seberapa”. Entah
kesalahan pengambilan kesimpulan atas kejadian, kenangan, dan pengalaman,
entahlah.
Tetapi
sang “anak manusia” tau pasti ini karena niat, keinginan untuk sebuah “hubungan
khusus” yang terakhir kalinya… untuk selamanya, juga barangkali karena terlampau
berhati-hati… agar tidak ada hati yang terluka, hati siapa saja (lah tapi, koq
malah hati sendiri yg terluka, piyee tha) Berharap tahu dulu “dengan pasti
& yakin” bahwa cinta itu benar-benar ada, nyata.
Begitulah,
dengan treatment tertentu, beberapa
hari yg lalu (3 hari yg lalu mngkin) hati sang “anak manusia” ini telah
teryakinkan seyakin2nya… bahwa ia; cinta itu bener2 ada.. ah setelah sekian
lama, gumamnya…. dengan tatapan sesaat tepat ke bola mata-nya (walau sedikit
sembunyi2, haa..).. aq percaya itu adanya, aq gak salah… bgetho katanya.
Yahh
begitulah (lagi2 begitulah, hmmm…), itu hanya (masih) sebuah pernyataan satu
sisi dari dua keping hati yang berbeda, baru satu perspektif ungkapan rasa,
dari dua zat yang paling dibutuhkan dalam proses kimiawi dua insan.
Barangkali ada yang sedikit terlupakan oleh sang “anak manusia” ini; bahwa di ujung sana
keping hati dambaannya juga sedang bergelut dengan segala permasalahannya,
harapan, dan angan-angannnya.
Yah
mau gimana lagi, tentunya akan menjadi terkesan absurd di mata sang dambaan hati bila sang “anak manusia” mengatakan;
seandainya masih ada kesempatan, seandainya masih bisa, dan andai-andai yang
lain… aq akan buktikan bisa menjadi yang terbaik untuknya, gumamnya. Gimana bro..
haruskah ku katakan itu.. masih bisa kah ku raih asa ku padanya? Begitu tanya
nya padaku dengan cepat, walau dengan sedikit terbata. Ku terdiam, gak mampu
memberikan jawaban, gak berani… takut salah. Dan pada akhirnya semua belum bisa
diputuskan, sang “anak manusia” tercenung… termangu. Ahhh… aku jadi iba, tapi
apa daya?
Tapi
tentu saja, “atas nama prinsip” tidak ada istilah benar atau salah secara
absolut, apabila rule-nya gak jelas. Memang, dalam hati sang “anak manusia” ini
sudah sejak lama selalu berkecamuk.. bergelut dengan dua prinsip yg saling
bertentangan; apakah memilih prinsip “berhati-hati” dalam sebuah relationship yang sarat dengan permainan
rasa… atau memilih prinsip yang satunya lagi; segera tangkap saja selagi bisa,
slagi ada kesempatan, masalah kedalaman rasa? Ahh itu nanti saja… lepaskan saja
kalau memang ia tiada… selesai.
Prinsip
yg kedua ini bukannya nggak pernah dilakukan sang “anak manusia”… tetapi
hasilnya… efeknya sama terhadap “kesehatan” hati, jiwa. Rasa bersalah, berdosa, rasa
nano2 lah. Yah mau gimana lagi kalau kalau rasa itu nggak tumbuh2 juga, begitu argument-nya kala itu.
Kembali
ke prinsip yang pertama, yang baru saja terbukti dengan “luka hati” sang “anak
manusia”, hanya beberapa detik saja sebelum tulisan ini dibuat, baru saja tau
tepat di tegukan yg pertama dari secangkir kopi “gayo” yang ke-3 untuk hari ini,
yg baru saja di suguhkan ke hadapan ku. Baru saja tahu bahwa cintanya “tlah
berlalu”… seperti berlalunya “tahun 2007”.
Dan begitulah
tulisah ini selesai dirangkai, dengan satu bisikan halus dari sang “anak
manusia”…. Syukur yah bro, ternyata aq masih bisa juga bener2 fall in love setelah sekian lama, setelah
peristiwa-peristiwa yang sungguh “celaka” itu… fall in walau endingnya gak enak…
Hmmm…
gumamku, aq sempatkan juga sedikit berpesan (gak enak jg dari tadi cuma diem),
singkat saja… “fren, jangan takut menjalankan sebuah prinsip selagi tidak
bertentangan dengan rule yg di “atas”.
Resiko pasti selalu ada… Jatuh bangun itu mah biasa, kesalahan kecil itu
manusiawi. Terbukti khan… sekarang kamu jauuuuh lebih matang, wake up fren… 2008 didepan mata.. saatnya
giliran mu.
Pasar
Merah, December 31, 2007 ; 08.15 AM
PERJALANAN KARIR, KILAS BALIK
2007
2007,
ternyata tidak mudah meniti karir untuk tiga bidang pekerjaan yang berbeda.
Lelah, letih, diburu deadline – selalu mewarnai hari-hari. Beginilah perjalanan
karir-ku (huhuhu):
Maret
2003;
Memulai profesi sebagai pengajar, dosen. Sebagai dosen muda awalnya tidak
mudah memang, apalagi untuk sebuah pilihan karir yang tidak direncanakan
sebelumnya. Tapi, nggak sampe’ 1 tahun berjalan sudah mulai ku dapatkan
kenikmatan menekuni profesi yang “mulia” ini. Lama-kelamaan jiwa seorang
“pendidik” mulai tumbuh – bukan hanya sekedar “mengajar” & menghabiskan
materi yang diharuskan.
Desember
2003;
Merasa
tidak cukup hanya bergelut di dunia pendidikan, memaksa aku untuk mencoba
keberuntungan pada bidang yang lain. Masih teringat saat itu, tepat di
penghujung tahun – 31 Desember 2003, ada tawaran sebagai tenaga ahli freelance
untuk pekerjaan feasibility study
dari sebuah konsultan manajemen, wah seneng bgt pada saat itu….. senang karena
mendapatkan side-job sehingga nggak
mengganggu aktivitas mengajar…… senang karena mendapatkan pelarian yang tepat
karena permasalahan “hati” pada saat itu (halahhh…).
Sebagai
“Dosen Muda” dan “Konsultan Manajemen” freelance, begitu menyita hari-hari ku.
Tidur larut malam, bahkan nggak tidur merupakan hal yang biasa.
Lama
kelamaan jenuh itu datang juga. Merasa beban kerja sebagai tenaga ahli tidak
“berbanding lurus” dengan income yang didapatkan, maka perlahan-lahan mulai
sekitar pertengahan 2006 aku mulai menarik diri dari dunia per-konsultan-an,
keletihan sampai pada titik nadir-nya (lelah hati juga, mungkin…)
Nopember
2006;
Menjaga
relationship dengan baik ternyata
berbuah manis belakangan. Selama aktif di dunia konsultan, memang tetap selalu
menjaga hubungan baik dengan perusahaan yang ber-kategori “bersih” dan
potensial. Alhasil, kira-kira di pertengahan oktober 2006, setelah bekerjasama
beberapa kali, ada sebuah perusahaan menawarkan kerjasama usaha, yang kebetulan
punya peluang di bidang kontraktor dengan menjadi rekanan tetap sebuah
perusahaan swasta asing di medan.
Yach,
gitulah, akhirnya sekarang aq jadi kontraktor (kecil2an), profesi yang juga
belum “ter-peta-kan” sebelumnya, semata-mata karena ada peluang dan kemauan
buat belajar, serta sedikit “nekat” (atau tekad?).
Kesibukan
bertambah lagi, me-menej waktu, mengelola pekerjaan, belajar negosiasi, tetapi
tetap enjoy…… walau terkadang sering terasa hampa, banget.
Oktober
2007;
Pertengahan oktober 2007, di bebani kerjaan baru neh… mengelola Perpustakaan
Institut, Seorang librarian….. kepala perpustakaan lagi?
Wah tanggung jawab yang teramat berat dalam kondisi coorporate culture yang masih butuh buayaaaak pembenahan.
Apakah
ini semata-mata karena “tantangan”?? entahlah, tapi apapun keadaanya… keputusan
sudah di ambil, dan segala konsekwensinya harus dihadapi, yach…. Setidaknya
hobby baca-ku tersalurkan dengan baik…..
Pasar
Merah, December 31, 2007 ; 06.00 PM